Rabu, 28 September 2011

Keadilan dalam Bersyukur dan Bersabar


Pernahkah kita merasa hidup kita amat buruk? Tidak berguna? Atau pernahkah kita merasa diri kita adalah orang paling sengsara? Pernahkah kita merasa kekurangan diantara begitu banyak nikmat yang Allah berikan?
Sebaliknya, apakah kita pernah merasa hidup kita begitu mudah? Yang menyebabkan kita sering berbangga dengan apa yang kita punya? 

Ada sebuah nasihat,
Bersyukur dan Bersabar merupakan dua hal yang memiliki keseimbangan,

Orang yang mendapati hidupnya sesuai dengan yang diinginkannya, berkesempatan menikmati surga dengan cara bersyukur atas semua nikmat yang Allah berikan.
Orang yang mendapati hidupnya belum sesuai dengan apa yang diinginkannya, berkesempatan menikmati surga dengan cara bersabar terhadapa semua kejadian yang Allah ujikan. 

Orang yang mendapati hidupnya sesuai dengan yang diinginkannya, berkesempatan mendapat siksa neraka manakala terdapat sifat sombong dalam dirinya.
Orang yang mendapati hidupnya belum sesuai dengan apa yang diinginkannya, berkesempatan mendapat siksa neraka manakala terdapat sifat iri dan dengki dalam dirinya.

Yang harus kita lakukan sekarang adalah menjalani kehidupan kita dengan sebaik-baiknya dan menikmati semua keindahan di dalamnya.. ^^

Senin, 26 September 2011

Tugas 1

Budaya Disiplin Waktu di Indonesia




  Kita tentu sering mendengar “besok” atau “mbesok” dalam aksen bahasa Jawa. Kata ini mempunyai arti 24 jam setelah sekarang. Tapi di Indonesia, “besok” bisa menjadi lusa atau bahkan minggu depan. Begitu yang ditulis oleh Terry Morrison & Wayne Conaway dalam buku best seller “Kiss, Bow, or Shake Hand: How Tod Do Business in 60 Countries”. Buku ini membahas tentang tips, etika dan budaya dalam melakukan bisnis di 60 negara (termasuk di Indonesia). Tanpa disadari, budaya “besok” yang dimiliki oleh bangsa kita menjadi terkenal di mancanegara. 

  Belum cukup sampai di situ, di buku tersebut ditulis juga: “In general, Indonesians arrive a half hour late”. Anda setuju? Atau malah menyalahkan buku itu karena orang Indonesia pada umumnya telat satu jam, bukan setengah jam? “Jam karet”, begitulah istilah yang sudah umum di Indonesia untuk menggambarkan keterlambatan. “Besok” bisa melar seperti karet menjadi lusa atau beberapa hari lagi. Rentang waktu “besok” mempunyai jangkauan yang panjang dan tidak pasti. Padahal kepastian diperlukan untuk mendukung pengambilan keputusan.
  Karena sudah menjadi biasa, akhirnya menjadi budaya yang diterima oleh banyak kalangan. Jangan heran, banyak orang dari negara lain atau orang Indonesia yang lama tinggal di luar negeri akhirnya malah mengikuti budaya ini. Arus jam karet lebih kuat sehingga menarik arus disiplin waktu yang lebih lemah tenaganya. Dampak dari jam karet atau keterlambatan ini adalah timbulnya “jalan pintas” yang menerjang arus jam karet. Kalau kita mempunyai suatu urusan yang memakan waktu lama, maka ada “jalan pintas” agar bisa lebih cepat. Dan tidak ada “jalan pintas” yang gratis.

  Dampak lain dari jam karet adalah tertundanya beberapa kegiatan lain sebagai rentetan akibat dari jam karet pada acara sebelumnya. Apabila diakumulasikan, telah terjadi inefisiensi yang luar biasa. Cuma karena banyak yang tidak menyadarinya serta sudah terbiasa, yang luar biasa menjadi biasa. Contohnya adalah suatu acara yang sudah dijadwalkan akan berlangsung dua jam dari jam 10 sampai jam 12. Kemudian rapat tersebut tertunda setengah jam karena peserta rapat banyak yang datang terlambat. Dengan asumsi rapat tetap dua jam serta waktu istirahat jam 12, maka telah terjadi pemborosan waktu, tenaga dan sumber daya listrik yang dikali setengah jam. Dengan asumsi rapat diakhiri jam 12, maka telah terjadi inefisiensi dalam pembahasan materi rapat yang cenderung akan dibahas secara tergesa-gesa karena kurangnya waktu. Inefisiensi juga akan terjadi pada rentetan kegiatan berikutnya karena keterlambatan rapat tersebut.

Minggu, 25 September 2011

Enceng Gondok dan Bambu Sebagai Kerajinan Tangan


  1. Enceng Gondok (Eichhornia crassipes )
  Enceng gondok adalah tanaman gulma yang mungkin bagi sebagian orang hanya tanaman yang tidak bernilai, meresahkan, dan lain-lain. Namun nyatanya dalam dunia bisanis, tanaman ini sangat digemari para pengrajin untuk dibuat menjadi berbagai kerajinan tangan yang indah dan menjadi daya tarik bagi para pengagumnya, sehingga tanaman ini berubah menjadi kerajinan bernilai ekonomi tinggi. Sama seperti kerajinan tangan lainnya, untuk membuat kerajinan dari tanaman enceng gondok ini diperlukan kreativitas dan inovasi agar hasil kerajinan dapat memikat para konsumen.

  Jika anda tertarik menekuni bisnis kerajinan enceng gondok, prosesnya tidak susah. 
Proses membuat kerajinan enceng gondok,
Pertama, eceng gondok yang baru diambil dari sungai di jemur hingga kering. 
Kemudian batang eceng gondok yang telah kering dibentuk lembaran-lembaran kecil. Lembaran batang eceng gondok yang telah mengering inilah yang nantinya dianyam dan dibentuk menjadi kerajinan sesuai yang 
dikehendaki.
*Proses pengeringan biasanya memakan waktu selama 3 hari. Yang perlu diingat dalam proses pengeringan adalah jangan sampai enceng gondok bersentuhan dengan tanah karena akan menimbulkan jamur. Jika sudah demikian, maka enceng gondok tidak bisa dipakai lagi.

Hasil kerajinan dari tanaman ini sangat mengagumkan, ini adalah beberapa contoh hasil kerajinan dari tanaman enceng gondok: